Cara Menghitung Pajak dari Dirjen Bea Cukai

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi. Untuk itulah, negara ini membuka jalur yang luas untuk terciptanya perdagangan internasional. Tidak hanya itu, perdagangan nasional pun memiliki peranan yang sangat penting. Namun dari semua itu, ternyata ada satu lembaga yang ikut andil membantu perekonomian bangsa agar tetap terjaga, yakni adanya keberadaan Dirjen Bea Cukai.

Adakah yang sudah mengetahui apa itu tugas dari bea dan cukai itu? Bea dan cukai merupakan sebuah lembaga pemerintahan yang melakukan tugas yang sangat besar, yakni menjaga peredaran barang yang masuk ke negeri ini atau dengan kata lain, melayani masyarakat dalam hal kepabeanan dan cukai.

Dengan pengawasan tersebut, bea dan cukai memiliki peranan yang sangat penting. Pernah kita lihat di banyak berita, banyak barang yang gagal masuk karena terkendala di lembaga tersebut? Jika barang tersebut lolos dan beredar luas di negeri ini, bukan tidak mungkin akan terjadi kekacauan.

Seperti apakah lembaga Dirjen Bea Cukai yang ada di Indonesia itu? Untuk mengetahuinya, bisa dengan menyimak ulasannya di sini.

Berkenalan dengan Dirjen Bea Cukai

Sebagai lembaga pemerintahan, tugas dan keberadaan lembaga bea dan cukai ini tergolong sangat penting. Lembaga yang berada di bawah pengawasan Menteri Keuangan ini memiliki tugas dan wewenang tidak bisa diremehkan. Dikatakan seperti itu karena nantinya tugas yang dimiliki oleh bea dan cukai ini akan mengawasai masuk atau keluarnya barang impor. Tidak hanya itu, sektor yang paling penting lainnya adalah dalam sektor pajak.

Pajak sendiri merupakan pemasukan yang memiliki tingkat yang besar untuk suatu negara, termasuk Indonesia. Pengawasan pajak tersebut meliputi PPN untuk impor barang, PPh dengan pasal 22, serta PPnBM, juga dengan cukai yang harus diawasi pula.
Dengan adanya bea dan cukai ini, peredaran barang yang dikatakan membahayakan akan langsung tersensor. Adapun barang tersebut seperti tembakau, rokok, alkohol, dan masih banyak lagi. Dengan begitu, pihak bea dan cukai berhak memberi batasan serta syarat yang ketat jika suatu barang ingin masuk ke suatu negara, dalam hal ini Indonesia.

Belanja di luar negeri kena pajak berapa besar?

Saat ini kemudahan menyertai banyak hal, termasuk dalam hal belanja. Bahkan belanja pun sudah tidak lagi dilakukan di pasar konvensional, melainkan dengan internet. Internet pun bisa memberikan kita keleluasaan yang sangat besar karena tidak hanya berbelanja di dalam negeri yang lokasinya berjauhan, melainkan hingga ke luar negeri pula.

Barang yang dijual di luar negeri bisa kita temui di salah satu situs terkemuka, yakni Ebay. Ebay sendiri sudah memiliki reputasi yang sangat bagus sebagai pasar online dunia. Kita bisa membelinya via pasar tersebut untuk memiliki barang yang kita inginkan. Namun satu yang harus diingat adalah, bagaimana dengan pajaknya? Apakah pajak luar negeri akan tinggi?

Jika ingin tahu seperti apa pajak untuk belanja barang dari luar negeri, kita bisa menghitungnya sendiri dengan adanya kalkulator online yang sudah terintergrasi dengan Dirjen Bea Cukai Indonesia. Berikut ini ulasannya.

Seperti kita tahu bahwa semua barang yang masuk ke negeri ini selalu melalui dengan bea dan cukai terlebih dahulu. Di sana akan dihitung semua pajak dari barang tersebut untuk kemudian akan dipasarkan ke tujuan. Jika belanja dari luar negeri, masih sama karena barang yang kita beli akan ditahan untuk dihitung dulu pajaknya di lembaga tersebut.

Lalu apakah semua barang yang memiliki nilai tertentu akan kena pajak? Ada kebijakan untuk pajak di bea dan cukai, yakni jika nilai suatu barang berada di bawah 50 USD maka itu akan bebas pajak. Sebaliknya jika suatu barang mempunyai nilai di atas 50 USD, bersiaplah untuk menerima pajak.

Sebelum menghitung pajaknya dengan sendiri, kita harus tahu dengan istilah yang sering digunakan oleh pabean. Ada istilah yang disebut dengan COST (harga barang) + INSURANCE (jika ada) + FREIGHT (ongkos kirim). Namun semua itu dipermudah dan pabean pun menyebutnya dengan CIF, yang merupakan kepanjangan dari ketiga istilah tersebut.

Adapun untuk penghitungannya adalah sebagai berikut.

Jika kita membeli sebuah barang yang memiliki nilai beli seharga 45 USD, tapi tanpa adanya INSURANCE dan dengan ongkos kirim senilai 15 USD, maka CIF barang tersebut adalah 60 USD (45 USD + 15 USD). Dengan demikian, nilai tersebut akan terkena dengan pajak.

Sebelum barang kita terima maka akan ditahan dulu di kantor bea dan cukai untuk kemudian dihitung berapa pajaknya. Setelah itu, maka akan diserahkan ke kantor pos yang sudah memiliki perwakilan dari bea dan cukai sendiri. Kita diminta untuk menebusnya, berikut pajak yang dikenakannya di kantor pos tersebut.

Hitungan pajak untuk impor tersebut antara lain: 

  • BM: (CIF – 50) * Tarif – BM
  • PPN: (CIF – 50) + BM) * 10%
  • PPh: ((CIF – 50) + BM) * 7.5
  • PPnBM: ((CIF – 50) + BM) * tarif – PPnBM

Dengan rumus tersebut serta dengan Tarif – BM senilai 15%, PPN senilai 10%, serta Tarif – PPnBM senilai 40%, bisa kita hitung menjadi:

  • BM: (60 – 50) * 15% = 1.5 USD
  • PPN: ((60 – 50) + 1.5) * 10% = 1.15 USD
  • PPh: ((60 – 50) + 1.5) * 7.5% = 0.8625 USD
  • PPnBM: ((60 – 50) + * 40% = 4.6 USD

Kemudian semua angka tersebut dijumlahkan maka pajak yang harus kita bayar senilai 8.1125 USD. Jika kita bandingkan dengan nilai yang dimiliki oleh barang yang kita beli tadi (60 USD), hasilnya menjadi sekitar 13.5% dari barang yang telah kita beli tersebut. Jumlah tersebut tinggal disesuaikan saja dengan kurs Dollar saat ini.

Tidak sulit, bukan untuk menghitung berapa pajak yang kita terima untuk pembelian dari luar negeri. Kita juga bisa melakukan penghitungan tersebut melalui kalkulator online yang ada di kantor bea dan cukai, dengan cara mengaksesnya di situs:

  • http://bctemas.beacukai.go.id/kalkulator
  • http://bcjakarta.beacukai.go.id/kalkulator-bea-masuk-dan-pajak-impor.html

Kenapa kita harus melakukan penghitungan dengan sendiri, bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab dari petugas bea dan cukai? Ya, meski sudah tanggung jawab mereka, namun dengan hitungan tersebut bisa memberikan kita kepastian akan pajak yang diterima. Hal ini karena banyak kejadian yang merugikan konsumen dengan pajak yang diberikan oleh Dirjen Bea Cukai. Kerugian tersebut terlihat dengan bedanya pajak yang mereka hitung, dengan yang kita hitung. Dengan kejadian tersebut maka layak bagi kita untuk menghitungnya sendiri.

Hal ini sekaligus melindungi kita dari ketidaktelitian petugas bea dan cukai. Dengan begitu, kita pun akan tenang jika harus membayar pajak yang sesuai dan wajar.

Dengan adanya Dirjen Bea Cukai maka diharapkan semua pajak serta peredaran barang yang membahayakan akan dapat diatur. Dengan demikian, kita sebagai masyarakat akan diberikan rasa aman. Semoga bermanfaat.