Evaluasi Kerja, Antara Motivasi dan Prestasi

Ilustrasi evaluasi kerja

Evaluasi kerja akhir-akhir ini menjadi topik kontroversial bagi jajaran pemerintahan yang ada di bawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo. Gubernur DKI Jakarta yang akrab dipanggil Jokowi ini telah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kinerja sejumlah camat dan lurah di Jakarta. Kebersihan lingkungan, renovasi pasar, penanganan PKL serta perawatan taman menjadi topik sentral evaluasi kerja.

Bagi karyawan dan organisasi evaluasi kerja bukan hal yang asing lagi. Evaluasi terhadap hasil kerja biasanya dilakukan setahun sekali. Evaluasi didasarkan pada pencapaian target yang diperoleh. Namun seringkali evaluasi yang dilakukan atasan menjadi beban tersendiri bagi karyawan. Ada rasa takut tersendiri jika hasil penilaiannya buruk. Penilaian kinerja tentunya akan bernilai positif jika dijadikan sebuah motivasi. Motivasi akan mengubah persepsi dari beban menjadi pendorong pretasi.

Memahami Evaluasi Kerja

Evaluasi kerja dapat dikatakan juga sebagai penilaian kerja. Penilaian kerja ini adalah penilaian terhadap hasil kerja yang sudah dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Baik atau tidaknya hasil kerja tergantung dari sejauh mana rencana kerja diaplikasikan. Kemampuan, kompetensi, motivasi, dan kepentingan menjadi dasar pelaksanaan rencana kerja.

Hasil penilaian kinerja dapat digunakan untuk perbaikan kinerja di masa yang akan datang. Hasil kerja karyawan tentunya akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Penilaian kerja karyawan dapat digunakan untuk menilai kemampuan, promosi, dan penentuan dalam jabatan. Bisa juga hasil penilaian kerja menentukan apakah kita masih layak bekerja di perusahaan tersebut atau tidak.

Penilaian kerja memiliki tujuan tertentu. Di dalam artikel How To Do an Employee Appraisals, karangan Dawn Rosenberg McKay, pengukuran kerja karyawan memiliki beberapa tujuan. Tujuan itu adalah memantapkan komunikasi, menetapkan ekspektasi yang jelas, meningkatkan kinerja, memperbaiki kinerja yang kurang memuaskan, dan membangkitkan semangat kerja sama dan teamwork. Penilaian kerja memang penting tapi jangan menjadikannya sebagai momok. Justru inilah saatnya kita mengetahui sejauh mana prestasi kita dalam perusahaan.

Lalu apa standar keberhasilan seseorang untuk mendapatkan hasil penilaian yang baik? Ya, tentu saja sejauh mana seorang karyawan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Seperti halnya pada kasus penilaian kerja oleh Bapak Jokowi di atas. Ada standar-standar tertentu yang harus dicapai oleh seorang karyawan. Semakin baik pencapaian tujuan organisasi oleh karyawan, maka semakin baik kinerjanya.

Memahami penilaian kinerja menjadi penting agar dapat dijadikan sebuah pembelajaran menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Penilaian kerja dapat dikatakan efektif jika memenuhi lima poin yang disebut SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Result Oriented, dan Time-bound).

Spesific berarti penilaian kerja dinyatakan secara jelas, singkat, dan mudah dimengerti. Measurable adalah dapat diukur. Penilaian kerja selalu memiliki ukuran-ukuran yang dinyatakan dalam sebuah nilai. Attainable bersifat menantang tapi masih terjangkau.

Organisasi tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai namun tujuan itu tentu masih dapat dijangkau oleh kompetensi karyawan. Berikutnya adalah result oriented yang bermakna berfokus pada hasil yang dicapai. Yang terakhir adalah time-bound yang berarti pada batas waktu dan dapat dilacak prosesnya.

Tolok ukur penilaian kerja sesungguhnya memiliki dimensi kuantitas, kualitas, waktu, dan kecepatan, nilai dan biaya, persentasi dan indeks yang menggunakan sistem pembobotan. Sasaran yang bersifat kuantitas dapat diukur secara absolut. Ukuran ini bisa berbentuk presentase atau indeks kinerja. Sebaliknya, kualitas tidak mudah diukur dan bersifat relatif. Namun kualitas dapat dilihat, diraba, atau dirasakan. Agar lebih efektif penilaian kerja yang bersifat kualitas biasanya diterjemahkan dalam bentuk ukuran tertentu.

Saatnya Menghadapi Penilaian Kerja

Inilah saatnya! Saat penilaian kerja adalah hal yang menegangkan. Jangan merasa bahwa penilaian kerja adalah sebuah beban. Hadapi dengan kepala dingin dan siapkan diri Anda. Apa saja yang harus dilakukan saat menghadapi penilaian kerja?

  • Jangan panik. Sikap panik justru menunjukkan ketakutan kita terhadap penilaian yang buruk. Jika kita sudah bekerja sesuai dengan SOP dan target yang ditetapkan perusahaan maka kepanikan tidak perlu muncul.
  • Realistis. Baik buruknya penilaian kerja kita tergantung dari apa yang sudah kita lakukan. Jika kita sudah berusaha maksimal tentunya hasil penilaian kita akan baik. Namun jika usaha kita belum maksimal kita harus bersikap sportif jika hasil penilaian kerja kita kurang baik.
  •  Siapkan Catatan Evaluasi Pribadi. Catatan evaluasi pribadi berguna untuk mencatat pencapaian target dalam kurun waktu tertentu. Kita juga dapat mencatat semua prestasi yang dicapai atau peningkatan skill. Misal telah mengikuti kursus tertentu. Catatan yang dimiliki dapat digunakan untuk mencocokkan catatan kita dengan atasan. Setelah evaluasi tahunan atasan Anda akan memberikan jobdesk dan target yang harus dicapai tahun depan. Hal itu juga dapat kita gunakan untuk pedoman pencapaian kerja tahun berikutnya.
  • Penilaian Kerja Itu Perspektif. Hasil penilaian itu bisa juga tergantung dari siapa yang menilai. Kadang penilaian kerja bersifat subjektif. Tidak perlu kecewa jika hasil penilaian kerja kurang baik padahal kita sudah bekerja secara maksimal. Terkadang ada unsur like dan dislike yang turut berperan dalam penilaian kerja.
  • Belajar dari kesalahan. Jika kita berbuat salah dan ada dalam penilaian kerja maka lakukan introspeksi diri. Belajarlah dari kesalahan dan jangan mengulanginya lagi
  • Menanggapi kritik. Kritik seringkali muncul saat penilaian kinerja. Hal yang penting jangan sakit hati terhadap kritik yang dilontarkan atasan Anda. Jadikan kritik sebagai motivasi kerja. 

Menghadapi Kritik

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika kritik datang.

1. Jangan Merasa Diserang

Gunakan kritik sebagai informasi yang dapat menguatkan serta memperbaiki kinerja kita. Jangan pernah merasa diserang dan jangan bersikap defensif. Kritik adalah sebuah umpan balik dan bagaimana orang lain melihat kita.

2. Lihat Motivasinya

Jadikan kritik sebagai motivasi kerja. Jangan sampai kritik menjatuhkan rasa percaya diri kita Jika kritik bersifat seimbang dan masuk akal, bukan tidak mungkin malah akan membangun prestasi kerja kita. Dengarkan kata hati dan tetap fokus pada pekerjaan. Sukses adalah cara terbaik untuk menunjukkan bagaimana kualitas diri kita.

3. Cari Orang yang Dipercaya

Berkonsultasi dengan pihak netral yang akan mengevaluasi kita secara jujur. Bisa saja mereka dapat memberikan masukan dari perspektif yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

4. Lihat Sisi Baiknya

Jadikan pikiran secara terbuka dan jadikan kritik sebagai sebuah celah untuk berkembang. Lihat kritik dari sisi positif dan terimalah dengan lapang dada.

Tip Lainnya

  • Beraksi dan Jangan Bereaksi. Jangan berbuat hal yang dapat memperburuk hasil penilaian kerja kita walaupun kita dalam posisi yang benar. Mintalah waktu dan kesempatan untuk memikirkan semua kembali. Jelaskan kepada atasan bahwa kita perlu waktu untuk merenungkan dan mempertimbangkan kembali hasil evaluasi tersebut.
  • Jangan berfokus pada hasil evaluasi. Jangan berfokus pada nilai hasil evaluasi yang diberikan oleh perusahaan. Berfokuslah pada proses dan kontribusi apa yang kita berikan pada perusahaan

Penilaian kerja adalah bentuk pembelajaran bagi individu untuk jadi pribadi lebih baik lagi. Pelajari lebih dalam lagi apa sebenarnya tujuan dari penilaian kerja. Seraplah sebanyak-banyaknya informasi yang berguna.  Jadi, siapkah Anda menghadapi evaluasi kerja saat ini juga?