Meluruskan Pengertian Ittihad

Meluruskan Pengertian Ittihad

Ilustrasi pengertian ittihad
Tahukah Anda pengertian ittihad? Ittihad merupakan salah satu khasanah spiritual yang dimiliki Islam, sebuah pemaknaan Islam yang bercorak mistis dan sufistik. Hanya saja, dalam perjalanannya cap stereotip kerap dilekatkan, dikecam banyak orang dan dianggap sesat. Tidak tahu persis apa motif dibalik pengecaman itu, tapi yang jelas, perkembangannya nyaris mengalami jatuh bangun dan pasang surut. Padahal, bila ajaran-ajaran sufisme ini tumbuh kembang, mungkin bisa lebih melembutkan hati.

Penyatuan

Terkadang cara orang mendekatkan diri kepada Sang Penciptanya itu berbeda-beda. Ada yang senang dengan cara yang begitu ekstrim yang tidak ada ajaran dan tuntunannya. Tetapi ia malah merasa tenang dan damai. Aneh, tapi ada. Misalnya, pergi ke gunung-gunung, menuruni lembah, tapi tidak sholat dan tidak puasa. Ia merasa dekat dengan Sang Maha Kuasa. Ia mengakui adanya Tuhan dan menganggap hidupnya berada pada jalan spiritual tetapi tidak religius.

Ada juga yang mencoba membuat peraturan sendiri dengan membaca sesuatu yang tidak ada tuntunannya baik dari hadist apalagi dari Al-Quran. Ia merasa senang dengan apa yang ia lakukan. Ia sangat baik dengan orang lain dan lingkungannya. Akhlaknya terpuji tetapi adabnya kepada Allah Swt dipertanyakan. Orang-orang yang dianggap sufi ini terkadang disalahartikan dengan berlebih-lebihan dalam beribadah. Tidak boleh memang berlebihan dalam segala hal.

Rasulullah pernah melarang sahabatnya yang tidak berbuka dalam puasanya. Tidak boleh juga berpuasa setiap hari. Rasulullah itu sangat tahu kemampuan umatnya. Ia tahu apa yang ada di pikiran umatnya. Untuk itulah, dilarang melakukan sesuatu yang tidak dituntunkan dalam ibadah. Kalaupun ada kebaikan yang didapat dari hal yang berlebihan itu, hal itu hanyalah sementara. Lama-kelamaan akan terlihat mudharat atau keburukannya.

Ittihad begitu juga. Ittihad ini dianggap sebagai suatu penyatuan Tuhan dan umatnya. Seorang hamba berusaha memenuhi semua sifat ketuhanan sehingga ia sangat merasakan kehadiran Allah Swt dalam dirinya. Ia begitu menjaga dirinya. Ia berusaha terus-menerus meluruskan niatnya. Terkadang dalam pergaulan dianggap terlalu ekstrim dalam beragama. Itulah mengapa orang yang mempelajari Ittihad ini terkadang terlihat tidak seperti orang kebanyakan. Orangtua yang anaknya mempelajari hal ini akan merasa bingung dan sedih.

Mereka takut anaknya tersimpang ke ajaran yang tidak benar. Padahal bukan tidak mungkin pelajaran tentang Ittihad ini akan memberikan kontribusinya bagi terbangunnya tatanan kehidupan yang damai, harmonis, rukun dan bebas konflik.  Dan dengan tumbuh kembangnya pemahaman agama yang bercorak sufistik, problem demoralisasi akan terjawab.

Apalagi, di era modernitas dan globalisasi saat ini, masalah moral sudah terasa akut. Moral dalam segala lini dan sektor: politik, sosial, hukum, etika, rumah tangga, gaya hidup dan lain-lain. Sialnya, problem demikian tak kunjung dijawab oleh model beragama yang ada saat ini.Apa pasal? Bisa jadi, model beragama saat ini lebih menitikberatkan pada praktik-praktik lahiriah, seremonial, formal, dan simbolisme belaka.

Berbeda dengan sufisme, kedalaman spiritual dan ketajaman jiwa yang menjadi karakter beragama sufisme menjadikan nurani, hati, pikiran dan batin lebih terasah dan peka terhadap perbedaan antara baik dan buruk, antara yang tidak patut dan tidak patut dikerjakan. Secara lahiriah, pelajaran seperti ini akan melembutkan hati. Namun ada yang harus diwaspdai yaitu tidak membuat ibadah diluar apa yang telah dituntunkan. Jangan sampai terlihat begitu tenang dan alim, ternyata malah dianggap mensekutukan Allah Swt.

Terkadang ketika hati begitu lembut, hati itu merasa sangat dekat kepada Allah Swt. Sebenarnya melalui sholat saja, manusia akan merasa sangat dekat dengan Tuhannya. Tidak perlu menambahkan sesuatu dalam beribadah. Setelah itu, mempelajari makna penciptaan dan sering zikir agar hati itu semakin lembut dan tidak mudah panas bagai tersiran air cuka. Kehidupan ini mudah saja. Asalkan tetap di jalan Allah SWt, sayang kepada-Nya dan tidak melanggar apa yang telah dilarang-Nya, maka keindahan hidup sebagai hamba pasti akan terasa.

Tidak iri dan cemburu dengan apa yang diraih oleh orang lain. Tidak bahagia ketika orang lain bersedih hati. Tidak merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, menghormati dan menghargai serta sabar dan terus bersyukur, maka Tuhan pasti akan memberi nikmat lebih. Keyakinan bahwa hidup yang sesungguhnya itu bukan di dunai tetapi ada di akhirat, biasanya akan membuat orang selalu sadar dan selalu ingin bergumul dengan Tuhannya setiap saat.

Syatohad

Bicara pengertian tentang ittihad, bisa juga dimaknai sebagai bentuk dari ajaran-ajaran tasawuf atau sufisme, yakni kesadaran bersatu dengan Tuhan.  Secara sederhana, tasawuf didefinisikan sebagai jalan menemukan kebenaran jiwa dan kesadaran hakiki manusia agar mampu mengalami perjumpaan dengan wujud Allah.  Ittihad berasal dari kata ittahad-yattahid-ittihâd (dari kata wâhid) yang berarti bersatu atau kebersatuan.

Ittihad merupakan proses kejiwaan dan cara berkomunikasi antara manusia dengan Tuhan. Amalan-amalan paling dominan adalah berzikir dan mengasingkan diri, disamping juga kontemplasi. Ittihad bukanlah hasil dari proses-proses yang didapat dari panca indera atau pun akal, tapi produk dari proses perenungan spiritual dan refleksi kebatinan.  Konsep lain yang sepadan dengan ittihad adalah cinta. Ketika sufi larut dalam perjumpaan dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menjadi dwitunggal. Dua dalam satu. Menjadi satu.

Seorang sufi yang dimabuk cinta dengan Tuhan, penglihatan, pendengaran, dan perasaan hati menemukan hakikat yang sebenarnya. Kerap terlontar ujaran-ujaran yang tidak umum, atau yang disitilahkan denga syathohat. Seperti, “Semua mereka kecuali engkau adalah makhluk-Ku”, “Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku”, aku adalah Engkau. Ungkapan-ungkapan ini dilontarkan sufi saat memasuki pintu ittihad.

Menemukan kondisi ittihad adalah ketidaksadaran. Wujud alam sekitar, termasuk tubuh tidak lagi dikenal. Yang dikenalnya hanyalah dirinya sebagai Tuhan. Kondisi ketidaksadaran yang diberikan Tuhan menuju pintu ittihad. Untuk merasakan ketidaksadaran sebagai pintu ittihad yang diberikan Tuhan, seorang sufi perlu mengasah jiwanya dengan beribadah dan selalu dekat pada Tuhan dalam kesabaran dan ketekunan.

Seperti disinggung diatas, ciri-ciri ittihad adalah dwi tunggal. Dua dalam satu. Artinya, walau ada dua wujud, tapi yang dirasakan cuma satu. Tuhan adalah sufi, sufi adalah Tuhan. Sosok Tuhan adalah sosok sufi. Begitu sebaliknya. Juga saling berganti peran. Peran sufi dan peran Tuhan adalah satu peran.

Komentar Aboebakar Atheh (1984) terhadap fenomena sufisme Abu Yazid diistilahkan dengan tajrid fana fi tauhid. Mirip dengan pengertian yang disebut diatas, istilah ini dimaksudkan sebagai bersatunya Tuhan dengan manusia. Tidak lagi ada dinding pemisah atau batas antara Tuhan dan manusia.

Bukan Tuhan

Munculnya ungkapan-ungkapan syatohat memang terasa aneh. Sebab, ada semacam pengidentifikasian bahwa seorang yang mengalami ittihad adalah Tuhan, walau sebenarnya tidaklah demikian. Seorang sufi kenamaan Abu Yazid mengatakan bahwa pengalaman ittihad bukanlah berarti menjadi Tuhan.

Memang, seolah-olah yang berbicara adalah Tuhan, tapi sebenarnya adalah sufi itu sendiri. Tuhan berbicara lewat lidah manusia karena dalam kondisi fana. Dalam situasi ittihad-lah ungkapan-ungkapan syatohat muncul, yang, sekali lagi, bukan diucapkan sang sufi, tapi oleh Tuhan dengan menggunakan mulut sang sufi.

Tidak jarang praktik-praktik atau ajaran-ajaran sufisme dipandang sebelah mata dan kerap dituduh menyalahi prosedur memahami Tuhan. Klaim-klaim sesat dan menyesatkan kerap terlontar dari kalangan yang anti terhadap tasawuf atau sifisme.  Karenanya, agar terhindar dari salah pemahaman terhadap ittihad, apa yang ditawarkan William James, seorang pengamat mistisisme dalam bukunya The Varietes of Religion Experience, perlu diperhatikan.

Pertama, melihatnya sebagai fenomena yang tidak bisa diungkapkan. Yakni pengalaman yang tidak mungkin ditransformasikan atau dipindahkan pada orang lain. Atau, sebuah pengalaman yang memang harus dialami sendiri. Kedua, pengalaman mistis yang kedalaman kebenarannya bukan diperoleh dari aktivitas intelektual atau dalam bangunan diskursus.

Ketiga, kondisi mistis yang tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang cukup lama.  Keempat, hadirnya keadaan mistis bisa dimungkinkan dengan cara direncanakan dan dipersiapkan. Misal, konsentrasi atau mengamalkan cara-cara yang sudah dibukukan atau disistematisasikan. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat:

“Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.